Jawabanku...tidak ada.
Bagiku keluarga adalah separuh nyawaku. Merekalah sekumpulan orang-orang yang paling kutakutkan untuk kehilangan. Merekalah sekumpulan orang-orang yang bernaung di atap yang sama, mencicipi beras yang sama, meminum air dari sumur yang sama dan melewati pukul paling dini dari hari yang sama denganku bertahun-tahun lamanya.
Keluargaku adalah Bapak, Mamak dan dua orang adik laki-lakiku Fandi dan Ojan.
Bapak berusia 56 tahun, seorang pegawai negeri yang telah mengabdikan dirinya pada negara selama lebih dari 30 tahun sampai bulan depan Bapak akan mengakhiri karir yang telah lama dirintisnya itu karena telah mencapai usia pensiun. Bapak seorang insinyur, sebutan untuk sarjana teknik pada masa Bapak kuliah dulu. Karena itulah Bapak terbiasa berfikir logis dan sistematis, semua hal harus memiliki perhitungan yang tepat. Contohnya, setiap kali aku minta izin untuk keluar rumah, Bapak selalu menanyakan dengan pasti kemana saja tujuanku dan jam berapa aku pulang yang kadang kala aku sendiri tak yakin akan kemana karena senantiasa aku keluar rumah hanya untuk jalan-jalan tak bertujuan bersama teman-temanku. Bapak sangat tidak menyukai hal-hal tak pasti seperti itu.
Berbicara mengenai mobil, Bapakku adalah seorang pecinta mobil sejati. Bapak senang membeli mobil sampai garasi rumah kami tak cukup lagi untuk memarkirnya sehingga beberapa mobil dititipkan dan terlantar tak terpakai di rumah nenek dan tante. Mengenai mobil-mobilnya, tak kuragukan lagi bahwa Bapak piawai dan rajin merawatnya. Bapak bisa mengetahui jika ada sedikit saja goresan di mobilnya dan itu bisa membuatnya kesal. Jika hari hujan, Bapak lebih memilih tidak tidak keluar rumah dengan mobil yang bersih karena tidak mau mobilnya jadi kotor karena air hujan. Suatu hal yang tak dapat benar-benar kumengerti.
Selain merawat mobil, hobi Bapak yang lain adalah bersih-bersih. Namun menurutku ”hobi” bersih-bersih bapak ini hampir dapat dikategorikan sebagai OCD yaitu Obsessive Compulsive Disorder, suatu keadaan dimana pelakunya melakukan suatu pekerjaan berulang kali walaupun pekerjaan tersebut sudah selesai atau tak perlu dikerjakan berulang-ulang. Mungkin aku berlebihan, tapi begini lah keadaannya ; Bapakku setiap pagi dan sore menyapu halaman rumah, mengumpulkan sampah-sampah dari selokan, membakar sampah-sampah, mencabuti rumput, mengorek-ngorek tanah, menebas tanaman-tanaman liar dan sebagainya dan itu terus dilakukan setiap hari, namun bukan hanya di rumah kami saja, hobi bapak ini terus merambat hingga ke rumah tetangga. Bapak mengumpulkan sampah tetangga, membersihkan selokan tetangga, mencabuti rumput liar tetangga dan sebagainya. Suatu kebaikan hati ataukah hobi yang tak bisa dimengerti. Pernah pula ketika kami berkunjung ke rumah tante yang di depannya terdapat kebun kelapa milik orang kampung sekitar, tanpa dikomando Bapak berinisiatif menebas rumput-rumput liar disekitar pagar kebun tersebut. Maka dari itulah, aku menyimpulkan bahwa hobi Bapak ini sudah tak sewajarnya.
Bapak adalah seorang yang emosional. Rata-rata keluarga dari pihak Bapak seperti itu. Dan sifat itu sedikit menurun padaku. Bapak gampang terpancing emosinya untuk suatu hal yang menurutku masih bisa dihadapi dengan santai dan tenang. Namun begitu, Bapak juga seorang yang perasa dan gampang haru untuk suatu hal yang menyentuh. Bapak juga gampang panik, terlebih jika ada anggota keluarga yang sakit. Bapak jadi sangat khawatir dan tidak dapat berfikir tenang. Bahkan karena sangat khawatirnya, Bapak bisa saja memarahi kami yang sedang sakit. Begitulah Bapakku.
Lain lagi tentang Ibuku yang kupanggi Mamak. Mamakku adalah perempuan kampung. Benar, Mamak memang berasal dari sebuah kampung bernama Manggeng. Bapak yang lahir dan besar di kota mempersunting Mamak yang kembang desa saat usia Mamak belum genap 21 tahun. Lebih dari 25 tahun menikah dan tinggal di kota, tak lantas membuat Mamakku berubah menjadi perempuan kota seutuhnya. Mamak tetap perempuan kampung. Namun, justru itu lah yang paling kusuka dan kubanggakan. Mamak tak berpenampilan berlebih seperti Ibu-Ibu perkotaan lainnya.Walaupun Bapakku seorang petinggi di kantornya dulu, Mamak tetap saja tak terlihat seperti istri petinggi. Pakaian Mamak sederhana sekali bahkan sangat sederhana dan tidak modis. Mamak tidak suka pamer dan tampil menonjol. Barang-barang bermerk pun Ia tidak kenal. Namun demikian, Mamakku selalu tampil maksimal jika pergi ke acara pernikahan. Saat itulah Mamak memakai pakaian yang bagus dan menarik serta sedikit perhiasan sehingga Mamak tak tak kalah menarik dari Ibu-Ibu lainnya.
Nah, masih mengenai busana, Mamak dan aku punya selera yang jauh berbeda dan itu terkadang dapat membuat konflik di antara kami. Mamak suka warna-warna mencolok, sementara aku suka warna-warna netral. Mamak suka berpenampilan sopan menurut standarnya sementara standar kesopanan menurutku berbeda dengan Mamak. Karena itulah Mamak sering protes dengan skinny jeansku yang katanya tak sedap di pandang orang. Padahal menurutku biasa-biasa saja dan banyak orang memakainya tanpa kelihatan aneh dan tidak sopan.
Mamak mencintai seni. Bukan hanya karena Mamakku seorang guru Kesenian dan Keterampilan, akan tetapi yang aku tahu Mamak mencintai seni lebih dari sekedar menjalankan profesinya. Waktu aku di sekolah dasar dulu, setiap kali ada pekerjaan rumah untuk membuat suatu kerajinan tangan, Mamak akan dengan senang hati membantuku membuatnya hingga selalu saja hasil kerajinan tanganku menjadi yang paling indah dan mendapat nilai tertinggi di kelas. Namun seiring bertambah dewasanya umurku, cita rasa seni Mamak dan aku menjadi semakin jauh berbeda. Aku sering tak sependapat dengan pilihan-pilihan Mamak atas nama seni. Seperti pemilihan desain dan warna rumah kami yang Mamak pilih berwarna merah hati dengan pagar berwarna biru yang menurutku norak sekali.
Mamak mengapresiasi seni dengan caranya sendiri. Hasil kerajinan tangan murid-muridnya yang menurut Mamak bagus akan Mamak bawa pulang ke rumah dan menjadikannya hiasan rumah. Seperti vas bunga dari botol minuman plastik yang dihiasi manik-manik yang Mamak letakkan sebagai pemanis di ruang keluarga. Padahal justru merusak pemandangan interior ruang keluarga karena bagaimanapun juga tetap saja masih terlihat seperti barang bekas yang diletakkan di ruang keluarga. Untuk hal ini, aku dan Bapak sependapat meminta Mamak tidak lagi membawa pulang hasil kerajinan tangan murid-muridnya untuk dijadikan hiasan di rumah kami.
Mamakku juga seorang penyedih. Nonton sinetron yang sedih sedikit, mata Mamak bisa berkaca-kaca karena sedih. Pernah suatu ketika aku meminjam satu seri VCD drama taiwan Meteor Garden untuk ditonton di rumah. Kerena aku tak sempat menonton, Mamak lebih dulu menontonnya sendiri secara maraton dari episode satu sampai tamat. Dari siang hingga subuh Mamak tak keluar kamar karena asik menonton.Keesokan harinya, akhirnya Mamak keluar dari kamar dengan mata bengkak karena menangis sedih menonton kisah Sanchai di Meteor Garden.
Pada saat memarahi kami anak-anaknya pun Mamak sering tak dapat menahan air mata. Padahal kami hanya diam dan tidak melawan sama sekali. Kalau sudah begini, Bapak sering menginterfensi lebih lanjut, karena menganggap kami telah sangat melukai hati Mamak sehingga Mamak menangis. Padahal, Mamak saja yang belum apa- apa sudah menangis duluan.
Mamak juga terkadang suka tulalit alias tidak nyambung. Tante (Adik Mamakku) dan Nenekku (Ibu Mamakkku) juga mengakui ini. Mamak suka bicara tidak akurat sehingga menimbulkan mispersepsi walaupun Mamak tidak bermaksud demikian. Hanya saja daya tangkap Mamak terhadap suatu hal atau perkataan tidak sebagaimana adanya. Bapakku sering dibuat jengkel karena hal ini.
Namun demikian, Mamakku adalah seorang yang sangat dermawan dan penyayang. Mamak senang bersedekah kepada fakir miskin dan anak- anak yatim dengan tak tangung-tanggung. Akan tetapi Mamak pelit pada anak-anaknya sendiri. Justru hal ini bertolak belakang dengan sifat Bapak yang tidak dermawan namun lebih royal pada anak-anaknya. Begitulah Mamakku.
Adikku yang paling tua Fandi usianya 23 tahun. Kuliah di teknik sipil mengikuti jejak Bapak. Hidupnya tak beraturan dan tak punya tujuan. Keluargaku sering menyayangkan hal ini.Tapi begitulah Fandi. Setamat SMU, Fandi melanjutkan kuliah ke fakultas ekonomi dengan alasan yang tak masuk akal. Padahal kami sekeluarga tahu benar bahwa Fandi memilih kuliah di fakultas ekonomi lebih karena menganggap jadwal kuliahnya santai dan banyak teman-temannya yang kuliah di sana. Fandi sama sekali tidak mempertimbangkan cita-cita dan karir masa depan yang semestinya jadi pertimbangan utama memilih fakultas. Hasilnya, Fandi hanya bertahan satu tahun di ekonomi, dan kemudian pindah kuliah di Fakultas Teknik sampai sekarang ini. Pindah kuliah ke fakultas teknik tidak lantas merubah Fandi sama sekali. Fandi jarang kuliah, nilai- nilai mata kuliahnya jelek, banyak mata kuliah yang tidak lulus, dan Fandi tidak punya satupun buku teks yang sewajarnya di miliki seorang mahasiswa.
Kesenangan Fandi adalah berkumpul dengan teman-temannya yang lebih kurang punya sifat sama seperti dia. Senang duduk-duduk membuang waktu di kedai kopi, main Playstation hingga larut malam dan keesokan harinya bangun di atas pukul 12 siang. Begitulah kegiatan rutin Fandi dan teman- temannya.
Fandi adalah orang yang paling jorok di rumah. Kamarnya lebih sering terlihat berantakan dan bau asap rokok daripada dalam keadaan rapi dan bersih. Jikapun sekali waktu kamar Fandi terlihat rapi dan bersih, itu hanya bertahan paling lama 2 hari saja. Setelah itu kamar kembali ke keadaan semula; kotor dan berantakan. Herannya, Fandi masih bisa tidur dengan nyenyak hingga siang bolong dalam kamar seperti itu.
Fandi adalah orang pertama yang diandalkan untuk membenahi masalah-masalah mekanik di rumah,seperti mengganti bola lampu yang padam, membawa mobil ke bengkel, memperbaiki parabola, memperbaiki dispenser dan sebagainya. Hal ini dikarenakan Fandi merupakan anak laki-laki tertua dalam keluarga yang mengharuskannya bersama-sama Bapak bertanggung jawab mengatasi masalah-masalah teknis dalam rumah tangga. Fandi selalu bersedia melakukan tugas-tugas teknis tersebut. Lagipula, Fandi memang terlihat berbakat dan senang mengatasi masalah-masalah mekanik. Fandi pintar merakit mobil-mobilan Tamiya sehingga dapat melaju lebih kencang. Fandi dapat memperbaiki parabola dan Fandi sangat mengerti otomotif. Untuk hal ini Fandi selalu diandalkan. Fandi bisa mengidentifikasi masalah bilamana mobil-mobil kami bermasalah misalnya tiba-tiba mogok, tidak dapat dinyalakan dan sebagainya.
Nah, satu hal lagi yang kontradiksi dari Fandi adalah meskipun Fandi adalah seseorang yang hidupnya terlihat tidak teratur, malas dan sama sekali tidak terlihat sebagai sosok berprestasi namun Fandilah anggota keluarga yang paling banyak menyumbangkan piala di rumah ini. Piala-piala yang jumlahnya sekitar lima buah itu dimenangkan Fandi dalam kompetisi-kompetisi otomotif.
Fandi juga orang yang penyedih dan gampang tersinggung. Kalau sudah tersinggung, Fandi gampang menyimpan dendam. Waktu masih kecil aku dan Fandi sering terlibat pertengkaran untuk masalah-masalah anak-anak seperti berebut mainan. Kami bertengkar mulut hingga pukul-pukulan. Kalau sudah begitu, Bapak dan Mamak akhirnya turun tangan dan menghukum kami. Dan kamipun menangis. Waktu Fandi masih kecil dulu ia adalah partner in crime sejatiku. Walau sering bertengkar, aku dan Fandi juga sering kompak melakukan kenakalan bersama. Hal yang paling kusenangi saat masih kecil bersama Fandi adalah pergi menanggap ikan di sawah atau selokan. Kami melakukannya diam-diam, karena Bapak dan Mamak tidak mengizinkannnya. Pernah suatu hari saat Bapak dan Mamak menyuruh kami tidur siang. Kami tidak benar-benar tidur, hanya pura-pura memejamkan mata. Saat merasa yakin Mamak dan Bapak sudah tertidur, kami mengendap-ngendap bangun kemudian mengambil pangki rotan dan sebuah botol air mineral bekas dan berjingkat-jingkat keluar rumah untuk pergi menangkap ikan. Jika musim hujan tiba, parit-parit di sekitar kompleks rumahku yang biasanya hanya dihuni ikan gobi, kini kedatangan tamu ikan-ikan dari sungai yang besar-besar seperti sepat dan betok. Pada saat itu rasanya suatu prestasi besar jika kami bisa menangkap banyak sepat dan betok dan memeliharanya di rumah dalam botol air mineral walaupun tiga hari kemudian mereka mati karena kehabisan oksigen. Setelah mendapat banyak sepat dan betok serta basah kuyup karena tercebur selokan aku dan Fandi pun berniat pulang membawa hasil tangkapan kami. Benar-benar tidak diduga bahwa pelarian kami kali itu telah ketahuan oleh Bapak. Dengan sabarnya Bapak menanti kami di depan rumah dengan sebatang ranting pohon jambu untuk menghukum kami. Bapak memarahi kami habis-habisan dan menghadiahi pukulan ranting pohon jambu di kaki kami hingga kaki kami memerah dan sakit. Kemudian kami pun mandi sambil menangis.Itulah Fandi dan sekelumit kenakalan masa kecilku bersamanya.
Adikku yang paling bungsu bernama Fauzan. Ia biasa dipanggil Ojan. Usianya 18 tahun. Saat ini duduk di kelas 3 SMU dan tengah bersiap-siap mengahdapi UAN dan SPMB.
Dari kecil, Ojan terkenal sebagai si anak baik. Ojan sama sekali tidak terkontaminasi kenakalan aku dan Fandi di masa kecilnya. Ojan lebih banyak bermain di rumah bersama sepupu-sepupu kami. Karena itulah Ojan punya banyak koleksi mainan dibandingkan yang aku dan Fandi miliki kerena aku dan Fandi justru lebih suka turun langsung ke lapangan. Ojan kecil menjadi kesayangan Bapak, Mamak, Nenek, paman dan tante-tanteku, mungkin karena dia anak bungsu dan baik budi serta tidak nakal.
Tidak selalu baik budi, Ojan kecil terkadang juga menyebalkan. Kebiasanya adalah menangis merengek-rengek sambil menjatuhkan badannya ke tanah jika permintaannya tidak terpenuhi. Kebiasaan aneh Ojan lainya saat masih kecil adalah tidak bisa memakai baju yang ada label di kerahnya. Ojan merasa risih dan gatal, maka itu Ojan selalu meminta label baju-bajunya digunting.
Ojan adalah anak yang cerdas. Sedari Sekolah Dasar Ojan selalu masuk sepuluh besar. Bahkan ketika SD Ojan sering duduk di peringkat 1 dan 2. Ojan juga sering mengikuti perlombaan-perlombaan antar sekolah sperti lomba bidang studi, lomba lukis, debat bahasa inggris hingga kompetisi basket dan Ia sering mendapat juara.
Aku, Fandi dan Ojan memiliki bakat seni. Akan tetapi bakat seni Ojanlah yang paling menonjol. Ojan pintar menggambar, sedari kecil ia hobi sekali menggambar dan mewarnai. Gambarnya terbilang bagus untuk ukuran anak seusianya saat itu. Bahkan aku sendiri yang saat masih kecil juga senang menggambar, tidak dapat menggambar lebih bagus dari Ojan. Daya imajinasi Ojan tinggi. Ia sering menggambar tokoh-tokoh komik kesayangannya dengan persis tanpa melihat contoh gambar aslinya. Namun sayangnya, bakat Ojan dalam menggambar ini tidak terlalu dikembangkan. Padahal jika benar-benar diasah, bakat ini bisa menghasilkan prestasi yang membanggakan.
Beranjak remaja bakat seni Ojan yang lain muncul, yakni piawai memainkan alat musik. Aku yang mengajarinya bermain gitar saat ia masih SD, kini jauh tertinggal oleh kemampuannya. Bukan hanya gitar, karena insting musiknya kuat Ojan pun dapat memainkan alat musik lain secara otodidak. Piano, Organ, Accordion dan Biola dapat dimainkannya dengan cukup baik dengan hanya belajar sendiri. Lagi-lagi bakat ini juga tidak dikembangkan.
Ojan yang kini duduk di bangku SMA makin menunjukkan kecerdasannya. Yang paling dibanggakan orang tuaku adalah kemampuannya bedebat. Saat berdiskusi dalam keluargapun Ojan pintar mematahkan kata-kata Bapak yang menurutnya tidak benar. Walaupun terkadang jengkel, tetapi Bapak mengagumi kemampuannya itu. Oleh karena itu lah Ojan pernah memenagkan lomba debat Bahasa Inggris.
Sebagai remaja, Ojan cukup sempurna di mata remaja perempuan. Ojan kurus dan berkulit gelap dengan wajah tidak ganteng. Akan tetapi Ojan mungkin terlihat menarik karena ia beda. Ojan populer di kalangan teman-temannya, Ia trendi, fashionable, piawai bermain musik dan tahu benar hal- hal yang sedang populer di kalangan remaja. Walaupun demikian, prestasi akademis Ojan cukup cemerlang, ia berprestasi di sekolah, menjadi pengurus OSIS, menjadi anggota tim basket sekolah, mengikuti paskibraka dan menjadi sosok yang diperhitungkan diantara teman-temannya.
Ojan hampir sama denganku. Kami menyukai hal-hal baru dan menantang. Oleh karena itulah Ojan sangat tertarik kuliah di jurusan Hubungan Internasional yang menurutnya dapat mewujudkan cita-citanya kelak menjadi diplomat.Begitulah Ojan adik bungsuku.
Pepatah bilang, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Menurutku, pepatah itu tidak berlaku untuk keluargaku. Tidak seorangpun dari kami yang punya sifat serta kesenangan yang sama dengan Bapak dan Mamak. Bahkan kami memiliki karakter yang sangat berbeda satu sama lain.
Keluargaku bukanlah keluarga yang sempurna. Kadangkala kami bertengkar, Bapak dan Mamak berselisih paham. Bapak memarahi Fandi, Mamak memarahi aku, Ojan jengkel dengan Bapak dan Mamak dan sebagainya. Namun demikian, aku selalu bersyukur berada dalam keluarga ini. Memiliki Bapak, Mamak serta adik-adik yang senantiasa berada di sampingku. Nah, jika kemudian ada yang bertanya; ”Adakah yang lebih berharga di dunia ini selain keluarga?”
Jawabanku tetap sama....
Tidak ada











