Ini foto yang diambil setahun lalu saat kita terdampar di Capetown dengan persediaan dana terbatas...hehehe
Semua berawal dari keteguhan (or kenekatan) niat saya untuk travelling ke Afsel, lepas menjalani internship di Brazil. In fact, ga ada seorangpun yang saya kenal di negaranya Nelson Mandella itu. Modalnya hanya data-data tentang negara itu yang saya dapat dari situs-situs travelling di internet.Saya mengumpulkan semuanya,dari list motel-motel murah, biaya taxi, tempat makan, kantor kedubes or konsulat RI (in case ada apa2) sampai tempat2 wisata (in fact, I had been crazy of Cape of The Good Hope) yang wajib dikunjungi. Saya benar-benar excited bercampur cemas. Excited karena kesempatan untuk berkunjung ke Afsel ini udah 1 tahu lebih saya tunggu-tunggu. Saya udah jatuh cinta duluan sama Afsel sejak pertama kali melihat kota Capetown dari udara dalam penerbangan saya ke Santiago tahun 2005. Saat itu, sangking falling in lovenya ama keindahan alam Capetown, saya berniat kuat dalam hati bahwa suatu saat saya harus kembali dan menginjakkan kaki di tanah ini. Tapi sebagai perempuan dan akan travell sendirian pula, sejujurnya saya juga merasa cemas. Lain halnya, jika di sana ada seseorang yang saya kenal yang akan ngebantuin travelling saya di sana.
Akhirnya, dari Brazil, saya memutuskan tetap singgah di Capetown. Gimanapun juga penerbangan dari Sao Paulo, Brazil ke Hongkong akan transit di Johanessburg, Afsel dan dari sana saya hanya butuh waktu 1 jam saja menuju Capetown. Yup, dan saya pun membeli tiket Sao Paulo-Johanessburg-Capetown dengan sebelumnya berencana singgah dulu di Rio de Janeiro.
Di Rio, saya menghabiskan 4 hari yang ga begitu asyik..yang pertama, cuaca buruk dan hujan turun sepanjang hari, so saya ga bisa benar2 menikmati pantai-pantai Rio yang indah di hari yang cerah. Yang kedua, saya ga begitu menyukai kota ini..di daerah apartemen teman, tempat saya menginap merupakan daerah yang menurut saya agak sedikit "kumuh".Saya ga nyaman banget dengan banyaknya gelandangan dengan baju kumal yang tidur di jalanan. Asosiasi saya pada mereka selalu aja negatif, ditambah lagi faktanya bahwa tingkat kriminalitas di Rio cukup tinggi. Tapi again,selalu aja jiwa petualang saya mengalahkan rasa was was dan cemas itu. Yang ketiga, teman-teman saya sesama dokter muda, terlalu sibuk untuk diajak jalan-jalan..(yah, it's always the same things for us) walhasil saya kebanyakan jalan sendirian bermodalkan peta kota yang saya ambil di stasiun metro. Bukannya saya takut, tapi apa enaknya coba jalan-jalan sendirian..ga ada teman ngobrol dan berbagi kenorakan dan ga ada yang bisa dimintai tolong ngambil foto berkali-kali dengan berbagai pose :b. Dan yang keempat, dan yang terburuk adalah..saya kehilangan dompet merah manis kesayangan saya beserta uang 200 USD lebih di dalamnya saat saya jalan-jalan sendirian. I was damn stupid putting it on my back pack, sementara saya berjejalan naik bus dan orang bisa dengan leluasanya merogoh ransel saya dari belakang.
Ya, saya kehilangan dompet..tapi untungnya (masih juga berfikir untung) saya sempat menyisakan 300 USD di koper..tapi kalau dihitung-hitung duit segitu mah ga akan cukup untuk membawa saya kembali ke Banda Aceh dengan selamat sehat dan sejahtera, sementara saya perlu uang selama di Capetown, belum lagi di Honkong, belum lagi tiket dari Jakarta ke Banda Aceh.
Orang pertama yang terfikir oleh saya untuk menolong kemalangan saya ini adalah Abing tercinta. Orang yang dulunya sempat membujuk saya agar mengurungkan niat ke Afsel sendirian dan pada akhirnya menyerah dengan kekeraskepalaan saya. Saya ga mungkin dunk menelpon Mom dan bilang bahwa saya telah kehilangan 200 USD dan belum tentu bisa pulang ke Indon, yang ada malah bukan solusi yang saya dapatkan, tapi ceramah 1 jam dengan nada sopran :b.
By surprise, Abing tiba di Johanessburg dari Indonesia 15 menit lepas pesawat yang membawa saya dari Rio mendarat di sana. Ternyata, Abing udah mengatur semuanya, dari tempat menginap dan acara jalan-jalan. Abing ga pernah memberitahu saya sebelumnya kalo Ia punya teman di Capetown, so jadi lah kami bisa save dana untuk menginap karena kami dapat penginapan gratis di apartemen temannya itu. Dan berhubung si teman udah 4 bulan menetap di Capetown pasti sedikitnya tahu dunk seluk beluk kota Capetown dan senangnya lagi, bos temannya itu baik banget dan bersedia nyediain mobil dan bawain kita jalan dan makan..wah...save lagi dunk dana transpornya..
Capetown kota yang sangat indah, dikelilingi bukit padang rumput hijau dan ladang anggur, di bentengi Table Mountain yang gagah menjulang serta dan semakin cantik dengan hamparan pantai-pantainya yang biru.
Dan foto ini, di ambil di Victoria and Alfred Waterfront ( I love this place), sebuah dermaga yang asyik banget untuk nongkrong sore hari sambil nikmati laut dengan ditemani fish n chips dan jeruk hangat...atau kita bisa juga menikmati street performance kayak sirkus kecil, musik dan atraksi lain atau sekedar duduk-duduk aja menikmati boat-boat nelayan yang datang dan pergi serta orang yang lalu lalang atau...kalo seandainya kami sedang ga bermasalah dengan duit, kami juga bisa belanja sepuasnya di mall yang ada di area waterfront ini (mallnya keren, n jadi meeting point pelaut-pelaut Indonesia yang berlabuh di sana)
Ps : Dearest Abing, thankyou so much for this. I know sometimes I become such a lil girl for u darling
No comments:
Post a Comment