Rising from the deepest part of the heart for the unspoken words, to chain them into quotes, to freeze the senses, the thoughts, and memories in the name of the unchangeable times
Tuesday, December 28, 2010
Sultan Ahmed dan Taksim Square
Istanbul Part 2 : Lokma..The Sweetest Thing
Ini salah satu jajanan favoritku selama di Turki. Bentuknya seperti donat, namun lebih kecil, dilumuri gula cair kemudian di atasnya di taburi bubuk Cinnamon atau Pistachio. Harga seporsinya cuma 2 YTL, satu porsi isinya 3 buah. Paling enak dimakan selagi hangat. Kalau kalian jalan-jalan ke Turki, jangan lupa cobain Lokma ya..
Istanbul Part I : Landing
Dan pada bulan juni tahun 2010 akhirnya aku bisa menginjakkan kaki ku di Istanbul, Turkey,sendiri
Aku di jemput Nazim, salah seorang sahabat Abingku, berkebangsaan Turki, usia sekitar 40-an, belum menikah dan bekerja untuk sebuah lembaga Jerman yang berkantor di Istanbul.
Kami belum pernah bertemu sebelumnya, Abingku mengirim e-mail kepadanya beberapa bulan sebelum keberangkatanku dan memintanya untuk merekomendasikan penginapan murah dan tempat-tempat yang menarik untuk di kunjungi di Istanbul. Beruntungnya, Nazim bukan hanya memberikan info mengenai wisata di Istanbul, tapi juga menawarkan aku tinggal di flatnya selama di Istanbul.
Nazim sudah menungguku hampir satu jam di airport. Dan saat Turkish Airline yang membawaku dari Budapest landing, kami tidak serta merta bertemu. Aku berusaha mencari seseorang dengan kertas poster bertuliskan namaku di antara kerumunan para penjemput. Nazim tidak ada di situ. Aku menarik koperku menembus kerumunan dan menepi di dekat pintu keluar Attaturk Airport. Hampir setengah jam aku berdiri sambil mencari sosok yang aku anggap Nazim, sampai akhirnya aku "mencurigai" sesosok pria agak gemuk pendek dengan selembar kertas poster di tangannya. Tidak jelas apa yang tertulis di kertas itu, karena si sosok tidak mengangkatnya sebagaimana yang lazim dilakukan para penjemput, tapi aku tetap berinisiatif menghampirinya, daripada terus berdiri penasaran di airport yang ramai ini.
Dan kertas itu ternyata bertuliskan namaku. Dia Nazim yang aku cari! Tak enak membuatnya lama menunggu, akupun meminta maaf. Aku merasa tak enak melihat wajahnya yang lelah. Aku yakin sepulang bekerja, Nazim langsung menuju ke airport untuk menjemputku.
Kami naik taksi ke flat Nazim. Jaraknya sekitar 45 menit dari airport, jika tidak macet.Kami pun sampai di flat Nazim tempatku menginap selama di Istanbul. Kawasan ini bernama Sultan Ahmed, pusat bisnis,hotel dan perkantoran yang merupakan kawasan paling ramai di Istanbul.Flat Nazim berada di sebuah jalan kecil di belakang pusat pertokoan. Kawasan ini masih merupakan kawasan Sultan Ahmed, namun letaknya yang agak jauh dari pusat keramaian dan tertutup pusat pertokoan membuat harga sewa dan harga jual apartemen di kawasan belakang Sultan Ahmed ini lebih murah.
Nazim membeli flatnya beberpa tahun yang lalu. Flat Nazim ada di sebuah bangunan lima lantai yang sempit dan tidak ada fasilitas lift-nya. Bayangkan, flat Nazim ada di lantai 5 dan kami harus menaiki tangga yang lebarnya kira-kira 40 cm sambil menganggakat koperku dan isinya yang beratnya sekitar 20 kg. Cukup membuat pegal juga.
Flat Nazim cukup nyaman, Nazim mendekornya dengan indah. Ia senang mengkoleksi suvenir dan benda-benda seni dari setiap negara yang di kunjunginya. Lukisan dari China, topeng kayu dari Africa, patung-patung kecil dan koleksi mug dari berbagai negara. Nazim juga seorang pecinta buku. Buku menjadi salah satu dekorasi di rumahya.
Nazim tinggal sendiri. Kadangkala saudara perempuannya berkunjung. Aku akan tidur di sofa empuk yang cukup nyaman di ruang tamunya. Apartemen ini sebenarnya punya dua kamar, yang paling besar difungsikan untuk kamar Nazim sendiri dan yang satunya digunakan sebagai ruang wardrobe dan menyetrika. Ada dapur kecil yang jarang digunakan oleh Nazim, satu kamar mandi dan satu ruang tamu sekaligus ruang keluarga. So, aku akan menghabiskan malam-malamku di Istanbul di ruangan ini and it was really not bad!. Apalagi ada jendela di samping sofa yang bisa kubuka setiap malam, sehingga angin sepoi-sepoi bisa masuk dan aku bisa melihat bintang sebelum tidur.
Monday, December 27, 2010
Tante dan Kanker Paru
Sunday, December 26, 2010
Kucing Kami Si Mango
Kucing kami , kami beri nama Mango. Dia resmi menjadi anggota baru keluarga kami sejak 30 September lalu. Waktu itu Mango berusia lebih kurang delapan bulan. Mango adalah hadiah dari Abingku, kami mengadopsi dia dari seorang Bapak Penjual Kucing di daerah kampung Jawa, Banda Aceh.
Saudara-saudara Mango di rumah Bapak Penjual Kucing ada sekitar 7 ekor. Macam-macam warna bulunya, ada yang putih, coklat keemasan dan belang-belang. Tapi sejak pertama kali bertemu kucing kucing itu, hanya ada seekor yang punya bulu warna kelabu monyetlah yang paling gencar Pedekate kepadaku. Ia menggaruk-garuk kaki ku, naik ke pangkuanku, dan mengeong seolah-olah meminta dirinya untuk diadopsi. Kucing yang lain cuek saja, pengecut dan menghindar, padahal ada yg bulu dan matanya lebih bagus dari pada Mango. Tapi karena sudah cinta pada pandangan pertama (dan sepertinya memang sudah ditakdirkan saling memiliki) akhirnya Mango resmi kuadopsi. Abing membayar 1 juta rupiah sebagai uang adopsi plus satu buah kandang warna kuning.
Pertama kali berada di rumah, Mango stress berat! Dia kebingungan dan ketakutan. Begitu dikeluarkan dari kandangnya, Mango lansung berlari ke sudut-sudt perabot ataupun kolong meja. Dia mungkin merasa kaget dan asing dengan rumah dan lingkungan barunya. Yang sedihnya, Mango juga tak mau makan, padahal aku sudah menyiapkan makanan kucing beraneka rupa mulai biskuit sampai makanan kaleng buatnya. Mango juga tak mau digendong. Jadi kami memutuskan untuk membiarkannya beradaptasi dengan rumah barunya ini. Perlahan lahan, Mango mulai keluar dari kolong meja dan mulai menjelajahi setiap sudut rumah. Hidungnya mengendus-endus. Mengenal setiap orang -orang di dalamnya.
Hari kedua, Mango mulai makan makanannya dan mengekspose dirinya.Stressnya berkurang!
Dua bulan di rumah, Mango mulai terbiasa.Setiap sudut rumah dikenalinya.Pups and pee pun sudah pada tempatnya..Untuk yang ini kami melatihnya dengan sabar. Awalnya, Mango sering pup dan pee di lantai, di kasur di sofa..yang uuuh baunya minta ampun. Kami mengajarinya dengan cara memperkenalkan dia dengan kamar mandi dan mengenali jam-jam Mango biasa pup dan pee. Seperti manusia pada umumnya, biasanya pada pagi hari Mango sudah kebelet. Kamipun membawanya ke kamar mandi dan mengurungnya di sana.Setelah selesai hajatanya, Mango makan pagi, maka haripun akan berjalan dengan aman tanpa pup n pee dimana-mana.
Mango memang pintar, dalam waktu 2 bulan saja, kami tak perlu lagi menggendongnya dan menyuruhnya pup. Sekarang kalau kebelet Mango secara otomatis akan pergi ke toiletnya di belakang, pup lalu pergi deh..kami tinggal menyiramnya saja. Kalau pee, Mango akan mengunakan toilet alam, Mango kan cowok jadi terbiasa pee di tanah atau di balik tanaman.
Mango hobi tidur dan sangat pemalas. Memang kabarnya kalau kucing jenis Persia seperti Mango memang tipikal kucing pemalas, dan lagi pula usia Mango yang belum genap setahun memang masih berada di tahap usia kucing yangg tidurnya bisa sampai 18 jam sehari..
Mango manja, dan baik budi. Aku rasa tidak banyak kucing yang begitu akrab dengan suka berdekatan dengan manusia seperti Mango.Mango betah tidur dipelukan kami. Pernah suatu kali Mango tidur di kamarku. Ketika pagi hari, Mango bangun dan naik ke atas tubuh ku, mengendus–ngendus kan hdungnya ke pipi ku seperti memberikan ciuman selamat pagi. Ia juga suka dipeluk dan dielus-elus perutnya sampai tertidur.
Nah yang paling lucu, Mango itu bisa menjawab kalau kita ajak bicara.Contohnya ni, aku sering nyamperin dia saat dia baru bangun tidur atau bermalas-malasan, terus aku tanya “ Mango udah makan..?” Mango akan jawab “eew” lalu kutanya lagi..”Makanannya enak, Mango?” “eew” jawab Mango lagi..setiap pertnyaan akan selalu dijawab dengan “eew” ..menggemaskan sekaliii!.
Mango juga punya rasa ingin tahu yang tinggi. Mendengar berisik wajan dan penggorengan di dapur, Mango langsung ke dapur, dan duduk manis memerhatikan si Ani pembantuku memasak, waktu datang tukang reparasi elektornik ke rumah, Mango duduk manis didekatnya dan terus memperhatikan si tukang bekerja, dan setiap kali kami membersihkan kolam ikan, Mango juga ikut sibuk mutar-mutar ke sana kemari dan duduk di dekat kami mandorin kami bekerja.
Aku selalu kangen sama Mango, apalagi kalau jauh dari rumah begini. Kangen rasanya melihat tingkahnya yang lucu dan membelai-belai bulunya yang lembut dan berwarna kelabu monyet itu
Sunday, July 25, 2010
My Alascan road trip
Perjalanannya pasti akan menyenangkan, penuh petualangan dan seru..!
Memutar musik di mobil, terkadanng membuka jendela untuk menghirup udara segar (jika ga terlalu dingin) atau memakan camilan sambil ngobrol dengan teman seperjalananmu.
Kalo capek, bisa berhenti dan menepi sesaat untuk bersitirahat sembari menikmati pemandangan di sekeliling...sungguh menyenangkan! :)
Kalau uangku sudah terkumpul banyak, aku akan pergi!ya aku akan pergi! aku akan mengirim e-mail ke teman seperjalananku, mengatur tanggalnya dan kami akan pergi.!
Ya Tuhan..bawalah aku ke sana secepatnya.Selagi masih ada umurku (kini seringkali aku berdo'a supaya Tuhan memberiku umur panjang sehingga aku bisa melihat semua sudut bumi-Nya yang indah ini). Dan hal lain yang juga turut kusukuri adalah statusku yang belum menikah, ini benar2 memberikanku ruang untuk berpetualan kemanapun aku suka.Tanpa perlu memikirkan suami, anak-anak yg harus disusui, rumah yg harus dibersihkan dsb..
Sekarang tugasku adalah mengumpulkan uang, menabung, mengerem pengeluaranku untuk mebeli sepatu dsb. Semoga tahun depan aku bisa terbang ke Amerika, bertemu teman seperjalanku di sana (di akan terbang jauh dari Praha), lalu memulai road-trip kami sepanjang 1300 miles dari Dawson Creek dan berakhir di Fairbank, Alaska
Cihuyyy!!!