
Dua minggu yang lalu paman saya masuk rumah sakit karena syok sepsis. Beberapa hari yang lalu paman baru aja kembali dari Malaysia untuk menjalani operasi batu ginjal yang telah dideritanya selama lebih dari 4 tahun. Saat kembali keadaan paman memang tidak begitu baik, tubuhnya lemah, kulitnya pucat dan kering, tidak nafus makan dan terus saja diare.
Paman dirawat di ICU salah satu rumah sakit. Tekanan darahnya saat masuk turun hingga 60/30 dan Leukositnya mencapai 25000. Beberapa hari dirawat, kondisi paman tidak benar benar membaik.Tante saya, istrinya selalu setia berada di samping paman, memijit kakinya, mengoleskan cream ke kulit paman dan memasangkan Mp3 player dengan senandung ayat-ayat Al qur'an ke telinga paman. Saya hampir setiap hari menjenguk paman, dan melakukan hal yang sama untuk paman, seperti yang tante lakukan. Kadang-kadang, paman membuka matanya, saya ajak paman berbicara, saya mencoba membesarkan hatinya. Saya ceritakan padanya mengenai hasil pemeriksaan darahnya dari hari ke hari yang makin mendekati angka normal, begitu pula tekanan darahnya yang sudah mencapai 100/80. Saya katakan padanya, bahwa paman akan sembuh. Walau sepengetahuan saya sebagai seseorang yang belajar ilmu kedokteran, penyakit paman sudah sangat berat dan sulit disembuhkan. Paman telah mengalami multi organ dysfunction yang menjurus ke organ failure.
Tante seolah tak ingin percaya atas kondisi yang tengah menimpa suaminya. Tante seperti menipu dirinya sendiri dengan hal-hal yang menurut saya konyol. Pada suatu ketika, tante berbincang dengan salah seorang perawat perihal kondisi paman yang tengah tidak sadar saat itu, perawat yang sebenarnya ia tidak punya pengetahuan apa-apa tentang penyakit yang diderita paman saya mengatakan paman seperti ini akibat pembiusan saat operasi. Saya mau marah saja mendengarnya, mana mungkin efek bius bertahan hampir dua minggu. Saya sempat berdebat dengan tante akan hal ini, ingin meluruskan atas apa yang sebenarnya terjadi pada paman. Tapi tante lebih memilih percaya akan suatu kebohongan sejauh itu memberinya harapan akan kesembuhan paman.
Beberapa hari kemudian, kondisi paman kembali menurun. Tante mulai pesimis dengan pengobatan medis. Tantepun memanggil paranormal. Bukan satu, tapi tiga! Dan masing-masing mempunyai pendapat dan cara yang berbeda-beda dalam mengobati penyakit paman. Dari yang membaca ayat-ayat Alqur'an, membacakan doa pada air putih, hingga mengibas-ngibaskan pakaian dalam diatas tubuh paman!. Tante seperti hilang akal!.Berbagai opini dilontarkan, ada yang mengatakan paman disantet keluarga dekatnya, paman diberi sakit oleh orang-orang yang iri akan kesuksesan tante sebagai pejabat di salah satu dinas pemerintah, dan ada pula yang mengirimkan benda-benda penyantet di depan pagar rumah tante yang bersal dari warga sekitar tempat tinggalnya. Saya sangat menyayangkan opini-opini salah tempat ini yang hanya kan membuat tante menimbun dosa karena berburuk sangka pada orang lain.Bagiamanapun juga tante pasti akan memikirka beberapa nama yang disangkanya akan berbuat hal keji tersebut, dan itu belum tentu benar. Lagipula itu hanya menumbuhkan kebencian di hati tante terhadap orang-orang yang dicurigainya membuat paman sakit.
Saya sendiri bukanlah seorang yang mengingkari yang ghaib. Saya tahu, Tuhan menciptakan mahluk yang tak kasat mata seperti jin, setan,iblis dan malaikat. Saya percaya adanya roh dan saya juga percaya alam barzah itu ada. Tetapi, saya dan seluruh keluarga besar saya tidak suka akan perbuatan-perbuatan yang menjurus musyrik dan tak masuk akal, seperti mengibas-ngibaskan pakaian dalam tadi. Jika hal nya sang paranormal atau siapapun itu ingin membantu paman dengan ayat-ayat Al Qur'an, maka kami akan mempersilahkannya dengan hormat karena perbuatan itu sama halnya dengan berdoa dan bermunajat pada Allah. Seperti halnya kami pun berdoa, karena hanya Allah yang memberi penyakit dan Ia pulalah yang menyembuhkan. Tapi, tante seolah tak perduli, seandainya saja dia bisa mendatangkan 100 dukun dengan 100 mantra, maka saya yakin dia pasti akan melakukannya untuk kesembuhan paman.
Suatu hari, saya menceritakan hal ini pada Abing dengan nada kesal. Tetapi, kekasih saya yang baik hati itu malah bilang " Sayang, jika itu untuk kesembuhan orang yang kita cintai, maka jika diminta bersekutu dengan setan sekalipun mungkin kitapun akan bersedia." Saya terdiam sejenak mendengar kata-kata Abing dan membayangkan, apa mungkin saya akan berbuat seperti tante seandainya yang sakit itu Ibu saya, Bapak saya atau Abing yang sangat saya sayangi. Bahkan mungkin jika diminta menjilati kotoran ayam pun saya bersedia jika memang kotoran ayam itu menjadi obat bagi kesembuhan orang yang saya cintai.
Saya berusaha memahami apa yang tante rasakan. Setiap kali saya menjenguk, saya dapati tante akan bercerita dengan wajah berbinar tentang manuver paranormal A yang telah berhasil membuat tekanan darah paman naik, atau berkat jari telunjuk paranormal B yang ditekankan di dahi paman, maka cairan dari NGT paman tidak lagi berwarna hijau, atau setelah paranormal C membaca ayat-ayat Al-Qur'an, akhirnya mata paman terbuka. Ah, apapun itu, saya pasti berbahagia jika kondisi paman membaik. Saya, sama seperti juga tante, sangat ingin paman sembuh.
Paman saya adalah seorang yang baik hati. Sungguh, saya tak hanya menyebutnya baik, tapi "baik hati". Tak sekalipun saya pernah melihatnya marah, wajahnya selalu penuh senyum, bicaranya santun, Ia sosok yang rendah hati dan penuh hormat pada orang lain bahkan juga pada yang lebih muda darinya. Tak sedikitpun saya dengar ia mengeluh tentang sakitnya. Padahal mungkin ia telah jauh hari merasa ada yang tak beres dengan tubuhnya.
Paman saya meninggal dunia setelah hampir dua minggu dirawat di Rumah Sakit dalam usianya yang akan genap berusia 53 tahun pada 18 Maret nanti. Tante saya menerima ini dengan hati yang tabah. Ia tidak meratapi kepergian suami yang dicintainya itu. Hanya beberapa hari sebelum paman pergi meninggalkan kami, saya tidak lagi melihat tante sebegitu agresifnya dalam usaha menyembuhkan paman. Mungkin tante pun sudah merasakan bahwa tak ada lagi yang bisa dilakukan untuk membuat paman sembuh dan terus berada di sampingnya. Sehingga, jika Allah mencabut nyawanya, maka itu menjadi yang terbaik bagi paman.
Saya memilih untuk tidak melihat wajah paman lagi ketika paman telah meninggal karena sangat tak biasa bagi saya untuk melihat paman dalam keadaan tak bernyawa seperti ini. Ada rasa yang aneh dan kosong, karena saya mengingat dan merekam dalam memori otak saya, wajah paman sebagai wajah paman yang saya sayangi dengan senyum tulusnya dan sapaannya ketika berpamitan pulang setiap kali datang ke rumah saya untuk mengantarkan makanan masakan tante. Saya bersedih, karena tidak dapat melihat dan mendengar suara rendah hatinya lagi. Tetapi di satu sisi saya juga merasa bahagia, tidak lagi melihat paman menderita dengan CVC terpasang dilehernya, nafas yang tersenggal senggal, dopamin dan dobutamin yang dititrasi, NGT dengan sekret hijau keluar dari lambungnya dan saya tak melihat kondisi paman saya yang sungguh menyedihkan sekali.
Hari Rabu itu, saya mengantarkan paman pada persitirahatan terakhirnya di desa Juli, Kabupaten Bireun. Jenazah paman dimakamkan dibawah sebatang pohon coklat yang rimbun di tanah milik keluarganya dimana jasad ibu dan kakeknya telah terlebih dahulu dikebumikan di sana.
Saya tidak lagi bersedih hati saya melihat jasad paman saya dimasukkan ke liang lahat, yang ada justru perasaan lega dan bahagia sebab saya tahu paman saya tengah berbahagia akan kepulangannya pada Yang Menciptanya.
Sekarang, telah ada gundukan tanah baru disitu, masih merah dan basah, dengan dedaunan pohon coklat menaunginya. Ada dua buah batang ubi kayu yang telah di buang daunnya yang dijadikan penanda pusara, satu tertancap di bagian kaki, dan satu lagi di bagian kepala. Untaian bunga kenanga di gantungkan pada batang ubi kayu itu. Dan terakhir, pelepah daun kelapa diletakkan di atas tanah merah itu.
Ps : Au revoir Pak Yan. Kami sangat menyayangi Pak Yan, tak akan pernah putus doa kami untuk Pak Yan