Showing posts with label World through my eyes. Show all posts
Showing posts with label World through my eyes. Show all posts

Tuesday, December 28, 2010

Sultan Ahmed dan Taksim Square


Sultan Ahmed merupakan salah satu kawasan tersibuk di Istanbul. Bagaimana tidak, kawasan ini merupakan pusat bisnis dan perkantoran yang paling ternama di Istanbul. Sederet hotel-hotel berbintang berdiri megah di kawasan ini, pusat-pusat pertokoan dan restaurant serta cafetaria berderet di sepanjang  jalan-jalan utama kawasan Sultan Ahmed.

Pusat kawasan ini adalah Taksim Square.  Tempat  yang merupakan jantung kota Istanbul ini merupakan tujuan wisata populer bagi wisatawan domestik dan mancanegara. Di tengah tengah Taksim Square yang padat, berdiri sebuah  monumen yang  bernama Cumhuriyet atau dikenal sebagai Monumen Republik. Sejarahnya, monumen ini dibangun  pada tahun 1928 dalam rangka memperingati berdirinya Republik Turki. 


                                                    Taksim Square At Sultan Ahmed
Orang-orang selalu ramai berkumpul di sekitar Monumen Republik,  baik mereka yang hanya duduk-duduk santai menikmati suasana Taksim Square yang ramai, maupun para wisatawan asing dan mancanegara yang berkunjung dan mengabadikan gambar di Monumen Republik ini.

Selain cafe, pub,dan restorant cepat saji seperti Pizza Hut, McDonald's dan Burger King, di sekitar Taksim Square juga banyak dijumpai pedagang kaki lima yang menjajakan jajanan seperti cheznut, dan gula-gula. Kawasan ini juga merupakan tempat berdirinya beberapa hotel termegah Istanbul termasuk InterContinental, Ritz-Carlton dan Hotel Marmara. Namun  ironisnya, tak jarang saya bertemu beberapa pengemis yang meminta-minta di tengah-tengah kawasan yang penuh dengan kemegahan ini.

Di kawasan Taksim Square juga terdapat Ataturk Cultural Center, sebuah pusat kebudayan dan tempat diselenggarakannya berbagai pertunjukan seni. Saat saya berkunjung ke Istanbul pada bulan Juni 2010 lalu, sebuah panggung besar didirikan di tengah-tengah Taksim Square. Setiap harinya, mulai sore hari selalu ada pertujukan seni, budaya dan musik di sana yang diselenggarakan dalam rangka Visit Istanbul Year 2010.


Istanbul Part 2 : Lokma..The Sweetest Thing



Ini salah satu jajanan favoritku selama di Turki. Bentuknya seperti donat, namun lebih kecil, dilumuri gula cair kemudian di atasnya di taburi bubuk Cinnamon atau Pistachio. Harga seporsinya cuma 2 YTL, satu porsi isinya 3 buah.  Paling enak dimakan selagi hangat. Kalau kalian jalan-jalan ke Turki, jangan lupa cobain Lokma ya..

Istanbul Part I : Landing

Sekitar pertengahan tahun 2005, Abingku pernah berkata kepadaku ; aku akan mengajakmu ke Istanbul suatu hari nanti..salah satu kota terindah di dunia.

Dan pada  bulan juni tahun 2010 akhirnya aku bisa menginjakkan kaki ku di Istanbul, Turkey,sendiri

Aku di jemput Nazim, salah seorang sahabat Abingku, berkebangsaan Turki, usia sekitar 40-an, belum menikah dan bekerja untuk sebuah lembaga Jerman yang berkantor di Istanbul.

Kami belum pernah bertemu sebelumnya, Abingku mengirim e-mail kepadanya beberapa bulan sebelum keberangkatanku dan memintanya untuk merekomendasikan penginapan murah dan tempat-tempat yang menarik untuk di kunjungi di Istanbul. Beruntungnya, Nazim bukan hanya memberikan info mengenai wisata di Istanbul, tapi juga menawarkan aku tinggal di flatnya selama di Istanbul.

Nazim sudah menungguku hampir satu jam di airport. Dan saat Turkish Airline yang membawaku dari Budapest landing, kami tidak serta merta bertemu. Aku berusaha mencari seseorang dengan kertas poster bertuliskan namaku di antara kerumunan para penjemput. Nazim tidak ada di situ. Aku menarik koperku menembus kerumunan dan menepi di dekat pintu keluar Attaturk Airport. Hampir setengah jam aku berdiri sambil mencari sosok yang aku anggap Nazim, sampai akhirnya aku "mencurigai" sesosok pria agak gemuk pendek dengan selembar kertas poster di tangannya. Tidak jelas apa yang tertulis di kertas itu, karena si sosok tidak mengangkatnya sebagaimana yang lazim dilakukan para penjemput, tapi aku tetap berinisiatif menghampirinya, daripada terus berdiri penasaran di airport yang ramai ini.

Dan kertas itu ternyata bertuliskan namaku. Dia Nazim yang aku cari! Tak enak membuatnya lama menunggu, akupun meminta maaf. Aku merasa tak enak melihat wajahnya yang lelah. Aku yakin sepulang bekerja, Nazim langsung menuju ke airport untuk menjemputku.

Kami naik taksi ke flat Nazim. Jaraknya sekitar 45 menit dari airport, jika tidak macet.Kami pun sampai di flat Nazim tempatku menginap selama di Istanbul. Kawasan ini bernama Sultan Ahmed, pusat bisnis,hotel dan perkantoran yang merupakan kawasan paling ramai di Istanbul.Flat Nazim berada di sebuah jalan kecil di belakang pusat pertokoan. Kawasan ini masih merupakan kawasan Sultan Ahmed, namun letaknya yang agak jauh dari  pusat keramaian dan tertutup pusat pertokoan membuat harga sewa dan harga jual apartemen di kawasan belakang Sultan Ahmed ini lebih murah.

Nazim membeli flatnya beberpa tahun yang lalu. Flat Nazim ada di sebuah bangunan lima lantai yang sempit dan tidak ada fasilitas lift-nya. Bayangkan, flat Nazim ada di lantai 5 dan kami harus menaiki tangga yang lebarnya kira-kira 40 cm sambil menganggakat koperku dan isinya yang beratnya sekitar 20 kg. Cukup membuat pegal juga.

Flat Nazim cukup nyaman, Nazim mendekornya dengan indah. Ia senang mengkoleksi suvenir dan benda-benda seni dari setiap negara yang di kunjunginya. Lukisan dari China, topeng kayu dari Africa, patung-patung kecil dan koleksi mug dari berbagai negara. Nazim juga seorang pecinta buku. Buku menjadi salah satu dekorasi di rumahya.

Nazim tinggal sendiri. Kadangkala saudara perempuannya berkunjung. Aku akan tidur di sofa empuk yang cukup nyaman di ruang tamunya. Apartemen ini sebenarnya punya dua kamar, yang paling besar difungsikan untuk kamar Nazim sendiri dan yang satunya digunakan sebagai ruang wardrobe dan menyetrika. Ada dapur kecil yang jarang digunakan oleh Nazim, satu kamar mandi dan satu ruang tamu sekaligus ruang keluarga. So, aku akan menghabiskan malam-malamku di Istanbul di ruangan ini and it was really not bad!. Apalagi ada jendela  di samping sofa yang bisa kubuka setiap malam, sehingga angin sepoi-sepoi bisa masuk dan aku bisa melihat bintang sebelum tidur.